Senin, 22 Januari 2018

BERANI UNTUK BERBAGI

10 menit sebelum saya menulis ini, saya baru saja selesai menonton film pendek Kinetik karya Putri Tanjung. Film berdurasi 24 menit ini sebetulnya sudah tayang di Youtube channel Putri Tanjung sejak 24 September 2017, yang merupakan hari ulang tahun Kak Putri sendiri, tapi saya baru sempat menontonnya sekarang. Kinetik bercerita tentang 3 orang sahabat bernama Karim, seorang arsitek, Dhea, seorang penari dan pengajar tari, dan Kevin, seorang ahli matematika. Ketiganya telah mencapai mimpinya dan sukses di bidang masing-masing, tapi merasa bahwa ada yang kosong di hidup mereka. Mereka pun memutuskan untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan merenovasi sebuah sekolah di suatu desa di Karawang. Meski hanya 2 jam dari Jakarta, mereka menemukan perbedaan yang mencolok, terutama dari segi sarana dan prasarana pendidikan. Keadaan sekolah anak-anak itu tampak memprihatinkan.

Yang membuat film pendek ini berbeda adalah dalam proses pembuatannya, mereka betul-betul merenovasi sekolah tersebut dan berinteraksi secara nyata dengan anak-anak di sana. Setelah mencari tahu lebih lanjut, film Kinetik merupakan bagian dari kampanye yang diusung Putri Tanjung, yakni Muda Bergerak. Kampanye itu bertujuan mendukung komunitas sosial untuk bergerak dan berkarya lebih luas dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Menonton film Kinetik mengingatkan saya akan pengalaman yang saya lihat dan alami langsung saat berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Salah satu masalah yang sangat terlihat nyata adalah adanya ketimpangan dalam hal pendidikan. Di kota-kota besar, anak-anak bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak dengan segala fasilitas yang memadai. Namun, di daerah lainnya, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. 

Sudah bukan merupakan hal yang aneh bagi saya saat mendengar seorang anak bercerita bahwa ia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter naik turun bukit setiap harinya untuk pergi ke sekolahnya. Ada juga anak-anak lain yang harus mendayung perahu atau naik speedboat ke pulau sebelah. Semua itu mereka lakukan demi ke sekolah, karena di desa atau pulau mereka belum ada. Selama ini, kalau saya sedang malas belajar (yang sayangnya masih sering), entah kenapa tiba-tiba otak saya selalu memunculkan cerita anak-anak itu ke permukaan. Hal itu kemudian menjadi pengingat saya untuk jangan malas belajar.

Sewaktu saya ke Wakatobi pada tahun 2015, saya sempat singgah ke Desa Sama Bahari. Desa atau perkampungan tersebut dibangun di atas laut. Begitu tiba dan berjalan sebentar dari dermaga, ada suatu rumah dengan plang bertuliskan ‘Rumah Baca’. Akan tetapi, rumah tersebut terlihat tak terawat dan tidak ada buku lagi di dalamnya. Salah seorang bapak menjelaskan bahwa rumah itu memang awalnya difungsikan sebagai perpustakaan, tapi entah kenapa saat itu sudah tidak lagi. Sayang sekali, ya.

Di desa tersebut, ada sekolah dari SD hingga SMA, meskipun bangunannya sangat sederhana dan ada beberapa bagian yang rusak. Saya ke sana pada hari Jumat sekitar pukul 8 pagi dan tidak terlihat proses belajar. Entah keluarga saya terlihat mencolok atau bagaimana, tiba-tiba banyak anak yang mengikuti dan mengerubungi kami. Mereka ada yang mengenakan baju seragam dan ada juga yang tidak. Dari mereka saya jadi mengetahui beberapa informasi. Mereka belajar setiap harinya di sekolah hanya sekitar 2 jam, dari SD hingga SMA. Karena SMA hanya memiliki 1 ruangan kelas, maka kelas 10 hingga 12 pun belajarnya bergantian 2 jam per hari. Misalnya kelas 10 dari pukul 9 hingga 11, lalu kelas 11 dari pukul 11 hingga 1 siang, dan kelas 12 dari pukul 1 siang hingga 3 sore. Mereka juga tetap menjalani Ujian Nasional. Kebetulan anak-anak kelas 12 di sana pada tahun 2014 yang lalu adalah yang pertama ikut UN.  Sewaktu kami ke sana pada bulan Mei, mereka sedang menunggu hasilnya. Ketika ditanya apakah mereka siap dengan UN dan yakin dengan hasilnya, mereka menjawab dengan mantap bahwa mereka yakin lulus. Tidak adil sebetulnya kalau mau disamakan dengan sekolah di kota yang sudah maju yang belajar dari pagi hingga sore lalu sebagian ditambah dengan bimbingan belajar.

Di satu-satunya ruangan kelas untuk semua tingkatan kelas di SMA di Desa Sama Bahari
Sewaktu saya ke sana, sedang ada juga guru-guru volunteer dari suatu NGO. Mereka menjelaskan bahwa guru asli di sana jumlahnya memang belum memadai. Saat akan pulang, ada beberapa anak yang memegangi tangan saya dan bertanya ‘Kakak tidak mengajar kak di sekolah kami?’ Dengan merasa tidak enak, saya menjawab tidak karena memang hanya sebentar di sana. Rupanya mereka senang kalau ada tenaga pengajar dari luar mengajar di sekolah mereka.


Masalah kekurangan guru juga sering saya dengar. Seperti saat ke Pulau Arborek, Raja Ampat, saat itu terlihat sejumlah anak sedang bermain di pantai. Karena kami datangnya pada hari biasa (iya saya yang izin gak masuk sekolah hehe), kami pun bertanya kenapa tidak pergi ke sekolah. Anak-anak itu menjawab bahwa guru-guru mereka sedang pergi dan tidak ada di pulau. Kemudian ada seorang ibu yang menjelaskan bahwa para guru sedang ada rapat di ibu kota sehingga sekolah diliburkan selama seminggu atau dua minggu, tergantung kapan mereka kembali. Katanya, hal tersebut sering terjadi yang menyebabkan anak-anak banyak tidak masuk sekolahnya. Ya saya di sekolah dulu juga selalu senang sih kalau ada guru yang tidak masuk kelas dan semangat kalau liburan tiba :) Tapi saya beruntung karena ada bapak ibu guru yang mengajar di sekolah, bahkan setiap pelajaran ada satu guru. Sedangkan mereka, untuk mendapatkan ilmu dari satu orang guru pun jarang. Padahal saya dan mereka sama-sama anak Indonesia yang berhak atas pendidikan.

Saya percaya bahwa pemerintah telah mengupayakan yang terbaik dalam hal pemerataan pendidikan ini. Saat ini pun sudah semakin banyak orang yang menjadi relawan untuk mengajar di daerah-daerah. Ada pula yang membangun perpustakaan-perpustakaan. Saya sangaaaat salut dengan mereka! Ini juga jadi refleksi untuk diri saya sendiri. Mungkin belum banyak yang dapat saya lakukan saat ini. Saat datang ke suatu daerah, beberapa tahun ini saya sekeluarga biasa membawa sejumlah buku untuk diberikan ke anak-anak setempat. Melihat orang lain bahagia karena tindakan kecil kita ternyata sangat luar biasa rasanya. Hal itu pula yang Karim, Dhea, dan Kevin di film Kinetik rasakan. Mereka awalnya merasa jenuh dan kosong, padahal telah sukses. Namun, setelah bertemu anak-anak dan merenovasi sekolah, mereka seperti merasa ‘hidup’ kembali.

Salah satu kutipan di film Kinetik yang paling saya ingat adalah: “Menghitung apa saja yang sudah kita dapat di dunia ini rasanya 10 jari tangan kita tak cukup menghitungnya, tapi menghitung apa yang sudah kita berikan untuk dunia ini rasanya 1 hitungan jari pun belum ada.” 

Selagi masih ada rezeki dan kesempatan, yuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain!

Little notes:
  • Ada sebuah komunitas bernama 1000 Guru yang memiliki konsep Traveling & Teaching. Mereka rutin mengadakan trip ke suatu tempat dan para pesertanya pun berkesempatan mengajar anak-anak di daerah setempat. Informasi lengkapnya bisa dilihat di https://seribuguru.org/

Sabtu, 26 Agustus 2017

Mengagumi Waerebo, Desa di Atas Awan yang Indah dan Ramah

Dalam beberapa tahun terakhir, Waerebo tengah naik daun. Banyak orang berbondong-bondong ke kampung yang terletak di Pulau Flores itu. Padahal, untuk tiba di sana perlu waktu yang lama. Pada libur lebaran tahun ini, kami sekeluarga termasuk yang rela menempuh perjalanan jauh demi mengunjungi Waerebo. Kunjungan ini termasuk dalam trip keliling Sumba-Flores yang kami lakukan.


Kota terakhir yang kami singgahi sebelum tiba di Waerebo adalah Ruteng. Dari Ruteng  ke Denge yang merupakan titik awal pendakian membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Mendekati Denge, kondisi jalanannya mulai rusak bergrinjel. Apalagi saat itu kami naik mobil berdesak-desakan dan membawa barang bawaan yang banyak. Sehingga,kami terpaksa harus berjuang menahan barang-barang itu agar tidak terus menerus menibani kami.

Pemandangan selama perjalanan 
Setibanya di Denge, kami singgah terlebih dulu di salah satu rumah yang dijadikan homestay juga. Di sana, kami makan siang dan bertemu dengan Pak Blasius Monta, warga asli desa Waerebo yang bercerita tentang Waerebo. Salah satu fakta mengejutkan yang saya sendiri baru tahu adalah ternyata, nenek moyang penduduk Waerebo adalah orang Minang! Jauh banget ya padahal antara Sumatra dengan Flores. Rupanya, sejak dulu bisa dibilang orang Minang sudah menjadi perantau.

Bersama Pak Blasius Monta
Tidak diketahui secara pasti pada tahun berapa persisnya orang Minang itu merantau ke Flores. Akan tetapi, menurut Pak Blasius, saat ini ia dan saudara-saudaranya yang seumuran sudah sampai generasi ke-19. Ketika itu, perantau Minang yang datang adalah kakak beradik. Mereka tentunya tiba melalui laut dengan menaiki kapal. Dari pesisir pantai, mereka sempat melihat asap di ketinggian lalu mencari tempat keluarnya asap itu. Setibanya di atas, mereka pun membangun desa Waerebo. Rajin sekali ya mereka berjalan kaki sejauh dan selama itu, karena Waerebo sendiri berada di ketinggian kira-kira 1100 meter di atas permukaan laut. Kini, para keturunan orang Minang yang tinggal di Waerebo disebut sebagai Suku Modo.

Setelah cukup kenyang, kami bersiap untuk berjalan kaki menuju Waerebo. Masing-masing dari kami membawa tas ransel. Menurut informasi yang didapat, perjalanan ke atas memakan waktu kira-kira 2-3 jam tergantung kecepatan tiap individu. Kenalan-kenalan yang saya tanyai memperkirakan bahwa saya bisa menempuhnya selama 2 jam. Tetapi, gara-gara kejadian jalan kaki 7 jam di Pulau Sempu, Malang pada beberapa bulan lalu, saya jadi agak menyangsikan pendapat-pendapat mereka, haha.


Pada awalnya, kami sempat naik ojek dulu sebentar, baru mulai jalan kaki. Medannya menanjak dan di awal-awal jalanannya sempat berlumpur. Saya agak khawatir kalau misalnya akan terus berlumpur tapi untungnya tidak. Kami mendaki saat sudah agak sore jadi cuacanya cukup sejuk, tapi tidak begitu dingin. Jadilah jaket tebal yang sudah kami persiapkan hanya digantung. Perjalanannya memang melelahkan tapi untungnya berhasil kami lalui.


Di sepanjang jalan, kami sering berpapasan dengan beberapa penduduk lokal dan juga pengunjung. Saya sangat salut dengan para penduduk lokal di sana karena mereka kuat-kuat. Kebanyakan dari mereka berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Sudah begitu, mereka biasanya membawa barang-barang yang banyak karena untuk membawa barang atau bahan makanan ke atas memang hanya melalui jalan itu aksesnya. Saya tak habis pikir dengan ibu yang membawai sejerigen air di atas kepalanya dan bisa tidak jatuh! Coba kalau saya yang bawa. Di bawah airnya penuh, sampai atas bisa-bisa sudah habis. Ada juga yang membawa ayam, telur, dan barang lainnya.


Ada 3 pos pendakian untuk menuju Waerebo. Pos ketiga adalah tempat tertingginya karena setelah itu kami berjalan turun. Di pos itu, ada semacam pondok kecil yang memasang spanduk bertuliskan Selamat Datang di Waerebo dan hal-hal apa saja yang harus kami perhatikan selama di sana. Selain itu, ada juga semacam kentongan yang digantung. Setiap kelompok pengunjung yang datang harus membunyikannya. Biasanya yang membunyikannya adalah pemandu tiap kelompok. Tujuannya adalah agar warga di Waerebo tahu bahwa akan ada pengunjung yang datang.

Pemandangan dari pos 3
Sekitar 15 menit kemudian, akhirnya kami tiba juga di Waerebo. Total perjalanan kami dari Dengen menuju Waerebo ternyata 2 jam jalan kaki. Hm, benar juga perkiraan teman-teman saya. Karena merupakan desa adat, tentunya kami harus menghormati peraturan dan kepercayaan adat yang ada di sana. Salah satunya adalah tidak boleh berfoto dulu sebelum disambut secara adat. Prosesi penyambutannya sendiri adalah, kami masuk ke salah satu rumah, lalu ketua adat di sana akan mengucapkan kalimat-kalimat penyambutan dengan bahasa lokal sana. Dengan adanya penyambutan itu, kami sudah dianggap sebagai keluarga besar Waerebo.

Bersama ketua adat di Waerebo
Kemudian, kami pun berkeliling desa itu. desa Waerebo, yang dikenal dengan sebutan desa di atas awan, tampak cukup nyaman meskipun tidak begitu luas. Pada sore hari itu, terlihat anak-anak sedang asyik bermain bola, para ibu yang sedang memasak, dan juga banyak pengunjung yang datang bercengkrama dengan penduduk lokal ataupun sibuk berfoto-foto. Udara pada saat itu terasa sejuk. Sayangnya, karena sudah sore, kabut sudah turun sehingga untuk foto-foto tidak begitu bagus. 

Salah satu hal yang menjadi ciri khas Waerebo adalah 7 rumah adat berbentuk kerucut yang ada di sana. Rumah-rumah tersebut dikenal dengan nama Mbaru Niang. Ternyata, tiap Mbaru Niang terdiri atas 5 tingkatan. Tingkat pertama disebut ‘Lutur’ yang artinya tenda dan menjadi tempat tinggal masyarakat. Tingkat kedua yang sebutannya adalah ‘Lobo’ merupakan loteng untuk penyimpanan bahan makanan. Tingkat ketiga dinamakan ‘Lentar’ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benih-benih seperti jagung dan padi. Tingkat keempat adalah ‘Lempa Rae’, yaitu tempat cadangan makanan jika terjadi kegagalan panen atau musim kemarau berkepanjangan. Sedangkan tingkat kelima disebut ‘Hekang Kode’ yang digunakan sebagai tempat menyimpan langkar, semacam anyaman dari bambu tempat menaruh sesajian yang akan dipersembahkan pada leluhur.

Mbaru Niang
Beberapa tahun belakangan ini, Waerebo makin banyak didatangi pengunjung. Apalagi sejak tahun 2012, desa ini telah diakui UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia. Karena sudah semakin banyak turis yang datang, ada Mbaru Niang yang khusus dipergunakan untuk kami menginap. Kami akan tidur bersama-sama di ruangan besar. Sedangkan bagi penduduk lokal, karena jumlah warganya semakin banyak, maka kini yang tinggal di Waerebo hanya perwakilan-perwakilan saja. Sementara itu, yang lainnya tinggal di desa Denge. Penduduk Waerebo sangatlah ramah. Mereka memperlakukan para pengunjung dengan sangat baik. Sehari-harinya, para penduduk lokal itu berprofesi sebagai petani kopi.  

Di Waerebo, yang namanya sinyal betul-betul tidak ada. Jadi, jangan harap bisa langsung live atau update story di Instagram. Meskipun begitu, ada untungnya juga karena kami jadi bisa lebih merasakan suasana kekeluargaan di sana. Sesama pengunjung saling berkenalan. Saat makan malam, kami menyantapnya bersama-sama di ruangan tidur kami. Makanan kami sendiri dimasak oleh para ibu di sana dengan peralatan masak yang masih sederhana. Bahan-bahan makanan sebanyak itu diangkut dari Denge, yang artinya semuanya dibawa dengan jalan kaki!

Suasana saat makan malam
Keeseokan harinya, kami bangun pagi-pagi dan akhirnya bisa betul-betul melihat Waerebo saat cuaca cerah. Pemandangan di sana memang indah. Para penduduk lokal pun sudah mulai beraktivitas. Ada yang sedang mengurusi biji kopi, berkebun, dan sebagainya. Setelah berfoto-foto lagi, kami harus bersiap-siap untuk turun ke bawah. Perjalanan pulang kembali kami tempuh selama 2 jam dengan medan yang tidak seberat saat naik tapi entah kenapa lebih berlumpur. Satu hal yang saya salut lagi, tiap kali berpapasan dengan penduduk lokal, mereka akan mengajak bersalaman dan mengenalkan diri mereka.


Jujur, kunjungan saya di Waerebo adalah salah satu yang paling berkesan. Satu hal yang agak mengganggu adalah akses menuju Waerebo (dari Ruteng menuju Denge), jalanannya sangat parah rusaknya. Sehingga, perjalanan menjadi lama, apalagi jaraknya sudah sangat jauh. Harapannya semoga yang memiliki wewenang segera memperbaiki jalanan rusak itu. Selain itu, semoga meskipun semakin banyak turis yang berkunjung, kekhasan Waerebo dapat terus terjaga!


Selasa, 09 Mei 2017

JALAN KAKI 7 JAM DEMI KE PANTAI

Yang namanya pantai, di dunia ini ada sangat banyak. Orang-orang pergi ke pantai  bisa melakukan aktivitas yang berbeda-beda. Ada yang sekadar berjemur, nyoba aneka water sport, main pasir, dan banyak lagi. Saya sendiri termasuk orang yang suka pantai tapi bukan yang addict banget. Makin kesini, tanpa disadari saya jadi punya kriteria buat bilang kalau saya suka pantai itu. Tapi yang paling penting yaitu harus bersih.  Kesel banget kalau liat pantai punya pasir dan pemandangan yang bagus tapi dikotori dengan sampah. Lalu, saya juga prefer pantai yang sepi atau gak terlalu ramai.

Sudah banyak pantai yang saya datangi. Mulai dari yang touristy seperti Pantai Kuta di Bali atau pantai-pantai yang sangat sepi. Bahkan pernah juga untuk menuju suatu pantai harus naik mobil melewati jalan bergrinjel selama 2 jam, lalu dilanjutkan dengan menyebrangi sungai naik getek dan naik ojek. Nah, baru-baru ini saya punya pengalaman yang lain lagi soal pantai. Kejadiannya yaitu di Pualu Sempu, Malang.



Setelah ujian nasional dan pengumuman SNMPTN, hal yang saya nanti-nantikan adalah pergi liburan. Terakhir liburan kayaknya bulan Januari, deh. Jadi, begitu tau ada rencana ke Malang di akhir April kemarin, saya excited banget! Malang adalah salah satu kota favorit saya karena nggak tau kenapa suasana di sana berasa homey. Makanannya juga enak-enak dan murah. Walaupun ada rencana untuk rafting dan ke pantai, bayangan saya liburan saat itu akan tetep nyantai.

Hari pertama memang berlangsung lancar dengan rafting di siang hari lalu makan-makan enak waktu malam. Apalagi kami sekeluarga menginap di rumah sepupu yang memang di sana ada banyak banget makanan, hehe. Lalu, hari kedua pun tiba. Jam 7 pagi kami berangkat dari rumah dan menuju Pulau Sempu. Perjalanannya sekitar 2 jam. Mobil kami diparkir di Pantai Sendang Biru karena perjalanan akan dilanjutkan dengan perahu sekitar 15 menit. Setibanya di Pulau Sempu, kami bersiap untuk trekking menuju pantai Segara Anakan yang merupakan objek utama di pulau itu. Letak Segara Anakan berada di sisi berlawanan dari tempat perahu bersandar. Pantai itu tidak bisa dimasuki oleh perahu karena dikelilingi tebing. Satu-satunya akses adalah dengan berjalan kaki menembus hutan. Informasi yang kami dapat jalan kakinya ‘hanya’ sekitar 1 jam. Ya, masih okelah.



Ternyata, dugaan saya salah. Ada ‘musuh’ yang tidak saya perkirakan yaitu lumpur. Akibat dari pemanasan global, musim saat ini tidak menentu. Akhir April yang seharusnya sudah tidak hujan, ternyata kini hujan masih turun. Akibatnya, jalur menuju pantai Segara Anakan dipenuhi oleh lumpur. Awal-awal perjalanan, saya masih nyincing-nyincing celana biar gak kotor-kotor banget. Tapi baru setengah jam atau malah 15 menit, saya capek sendiri karena memang sudah pasti bakal parah kotornya. Treknya pun bukan jalan datar gitu aja, tapi banyak tanjakan, turunan, dan terhalang pepohonan (namanya juga hutan).  Lumpur betul-betul membuat perjalanan jadi 2 kali lebih berat. Saat tanjakan kerasa berat banget dan saat turunan kita jadi harus hati-hati karena sangat licin.



Saya bener-bener gak tau berapa lama kami semua berjalan.  Makin lama treknya makin sulit. Saat sudah bisa melihat air laut, jalurnya semakin sempit dan curam. Rasanya pengen nyebur langsung ke laut aja dan berenang. Setelah sekian lama, kami sampai juga di pantainya. Tebak berapa lama waktu yang kami butuhkan? 3,5 jam!! Yap, tiga setengah jam jalan kaki untuk menuju ke suatu pantai.



Pantainya sendiri berpasir putih. Pemandangannya bagus. Pantai Segara Anakan memang dikelilingi oleh tebing. Air laut masuk lewat terowongan karang ketika sedang pasang naik. Air laut yang ‘terperangkap’ oleh tebing-tebing itupun disebutnya laguna.  Di pantainya, ada beberapa ekor monyet. Terlihat pula beberapa kelompok anak muda sudah mendirikan tenda untuk bermalam di sana. Sayangnya, ada sampah yang berserakan. Sepertinya hal ini beriiringan dengan makin banyaknya pengunjung yang datang ke sana. Padahal aksesnya sulit, loh. Gak kebayang kalau aksesnya  mudah pasti sampah akan lebih banyak lagi.


Setelah menikmati pantai kira-kira satu atau setengah jam, kami memutuskan untuk kembali agar sampai sebelum gelap. Oh ya, kami tidak membawa bekal makan siang karena tidak mengira akan selama itu. Untung masih ada 2 buah roti dan biskuit seadanya. Jadilah kami berbagi makanan kecil itu untuk asupan tenaga.



Perjalanan pulang tidak lebih mudah. Treknya masih sama. Tapi paling tidak, sudah mulai terbiasa menghindari bagian-bagian yang sangat licin. Saya lebih memilih melewati pohon-pohon kecil yang tanah di bawahnya agak lebih keras sedikit dibanding jalur yang kosong tapi dipenuhi lumpur tebal. Setelah 3 seperempat jam, tiba juga kami di tempat tadi perahu bersandar.



Tapi, perjalanan belum selesai. Sepertinya kami tidak boleh berjalan lebih cepat karena ternyata air laut sedang surut! Sehingga kami harus berjalan lagi menuju perahu kira-kira 15 menit. Kalau ditotal, maka sama waktunya dengan perjalanan pergi. Kaki, sepatu, celana, dan bahkan baju kami semua sudah sangat kotor. Kaki saya sudah sangat pegal jadi jalannya aneh. Mungkin kalau ada persiapan sebelumnya atau sudah tahu akan selama apa jalannya, akan lebih mending.



Sebelum sampai rumah, kami mampir dulu ke minimarket. Di sana saya tatapan beberapa orang mengarah ke arah baju kami yang sangat kotor, haha. Efek kelelahan yang kami rasakan pun membuat kami semua telat bangun keesokan harinya. Kalau ditanya apakah ini termasuk pantai yang saya suka, jawabannya adalah iya untuk pemandangannya. Tapi tidak masuk daftar pantai favorit saya hehe. Apalagi harus jalan kaki 7 jam untuk pulang perginya. Saya jadi teringat dengan teman syaa yang tidak begitu suka pantai dan dia menganggap semua pantai sama. “Ada air laut kan? Ada pasir? Nah ya udah, apa bedanya? Semua sama. Kenapa sih orang-orang mau jauh-jauh pergi buat ke suatu pantai kalau yang dekat ada?” Kira-kira, gimana ya komentarnya kalau dia harus berjalan kaki selama 7 jam demi  ke pantai?

Little notes:

  • Untuk ke Pulau Sempu harus ke Pantai Sendang Biru dulu dan dilanjutkan dengan perahu.
  • Pulau Sempu adalah cagar alam, bukan sekadar tempat liburan. Jadi sebelum trekking, harus izin terlebih dulu.
  • Jangan takut nyasar di hutannya karena tiap pengunjung memang harus ditemani oleh guide.
  • Untuk yang ingin pergi ke sana, tolong jangan nyampah! Masukkan sampah kita ke dalam tas jika belum menemukan tempat sampah. Untuk yang camping, jangan lupa siapkan plastik besar untuk sampah. Jagalah kebersihan agar pantainya terus bersih dan bagus!
  • Enjoy your visit!

Jumat, 03 Februari 2017

MISOOL: A PIECE OF HEAVEN IN PAPUA

Kalau mendengar kata ‘Raja Ampat’, pasti yang terbayangkan adalah pemandangan indah gugusan batu karang di atas laut. Sementara bagi para penyelam, Raja Ampat juga seperti tempat ‘naik haji’ karena keindahan dan keragaman biota bawah lautnya. Namanya memang sudah sangat terkenal tapi sayangnya masih banyak yang bingung sebetulnya Raja Ampat itu apa. Nama bebatuannya kah? Atau nama satu pulau tersendiri?


Jadi, Raja Ampat adalah nama kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat. Kalau kita melihat gambar seperti kepala burung di peta Papua, nah di situlah letak Raja Ampat.  Di sana kira-kira ada ribuan pulau kecil baik yang berpenghuni maupun tidak. Kurang lebihnya seperti Kepulauan Seribu di Jakarta yang merupakan sebutan suatu kabupaten dan terdapat banyak pulau di kawasan tersebut. 4 pulau terbesar di sana yaitu Pulau Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. Ibukota kabupaten berlokasi di Pulau Waigeo, tepatnya di kota Waisai. Masyarakat membagi kabupaten Raja Ampat menjadi dua: utara dan selatan. 3 dari 4 pulau itu terletak di bagian utara. Hanya Misool yang letaknya di bagian selatan. Untuk mencapai Raja Ampat, bandara terdekat ada di Sorong, ibu kota Papua Barat. Dari sana dilanjutkan dengan speedboat menuju destinasi-destinasi tujuan kita.



Pada saat awal-awal Raja Ampat booming, para wisatawan berbondong-bondong datang ke sana. Travel yang menyediakan paket Raja Ampat pun menjamur. Akan tetapi, ketika itu kebanyakan tujuannya masih berpusat di bagian utara. Spot-spot yang banyak didatangi di Raja Ampat utara contohnya adalah Bukit Wayag, Pianemo (seperti Wayag juga tapi versi 'mini'nya), Teluk Kabui, Desa Sawingrai (tempat melihat cenderawasih), dsb. Semuanya bagus dan bisa dipastikan semua sudah puas sehabis dari sana.



Tapi, Raja Ampat lebih dari itu! Bagian selatan seringkali terlupakan untuk dikunjungi karena letaknya memang cukup jauh. Dari Sorong kira-kira 6 jam, sementara kalau bagian utara hanya perlu waktu 3-4 jam untuk dicapai. Pulau terbesar di bagian selatan adalah Misool. Sehingga, orang-orang kalau pergi ke Raja Ampat selatan bilangnya ke Misool. Begitu pula dengan banyak travel yang menyebut paket wisatanya 'Raja Ampat & Misool'. Raja Ampat untuk menyebut bagian utara dan Misool untuk menyebut bagian selatan. Akibatnya, cukup banyak pertanyaan seperti 'Oh Misool bukan Raja Ampat ya?'



Perkembangan wisata di bagian selatan memang agak lebih belakangan. Tapi, di sana ada banyak spot yang tidak kalah bagus dengan yang di utara. Beberapa tempat masih sepi dari kunjungan wisatawan. Jadi buat yang mau menyepi atau ke tempat wisata yang belum banyak dikunjungi orang, jangan lupa masukkan Raja Ampat bagian selatan ke dalam bucketlist, ya!



Kami sekeluarga sudah pernah ke Raja Ampat bagian utara pada tahun 2013. Sedangkan ke bagian selatannya baru pada bulan Desember 2016. Kunjungan kami ke sana selama 5 hari sudah termasuk penerbangan. Sama seperti pada tahun 2013, kami kembali menggunakan Kakaban Trip. Harga sewa speedboat di Raja Ampat mahal, bisa mencapai belasan juta per hari. Belum lagi bensinnya. Jadi untuk meminimalisir anggaran, ikut open trip dari travel sangat  direkomendasikan. Rombongan kami berjumlah 20 orang ditambah guide 2 orang dan awak kapal ada 4 orang. Dalam 5 hari, kami puas melihat pemandangan indah dan nyebur ke laut sampai-sampai sinyal susah bukanlah masalah. Dan inilah beberapa spot yang kami kunjungI!

  • ·         Puncak Harfat Jaya

Kalau Raja Ampat bagian utara punya Wayag dan Pianemo untuk melihat pemandangan dari atas, di bagian selatan ada Puncak Harfat Jaya. Puncak ini baru ditemukan pada 23 Desember 2013 oleh Pak Harun, warga kampung Harapan Jaya, Misool. Ketika itu, ia diminta oleh kementrian untuk mencari spot di sekitar Misool yang bisa didaki untuk melihat pemandangan dari atas. Setelah sekian lama berkeliling dan mencari, bukit karang ini pun ditemukan. Nama Harfat berasal dari gabungan nama Harun dan istrinya, Fatima. Trek untuk mendaki bukit ini sudah diberi jalur, pegangan, dan sejumlah tangga kayu sehingga jauh lebih mudah dilalui dibanding Wayag. Perjalanan menuju puncak kira-kira membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Dan setibanya di atas, pemandangan laut berwarna turquoise dan pulau-pulau karang yang indah telah menanti. Saat kami ke sana sayangnya langit sedang mendung dan bahkan turun hujan, tapi pemandangannya masih tampak sangat indah. Kalau langitnya cerah yakin banget pasti bakal jauh lebih keren! Oh ya, karena space di puncak tidak terlalu luas, kita mesti hati-hati dan jangan lupa gantian dengan orang lain ya buat foto-fotonya!




  • ·         Danau Ubur-Ubur Lenmakana

Gak hanya di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur yang punya danau ubur-ubur. Di Misool juga ada, bahkan kabarnya ada 5. Tapi menurut penduduk lokal yang bisa diakses baru 2, salah satunya adalah danau ubur-ubur Lenmakana ini. Ubur-ubur yang terdapat di danau itu adalah jenis stingless jadi aman bagi kita berenang bareng mereka. Untuk menuju danau ini memang perlu naik turun bukit dulu tapi gak akan nyesel begitu sudah sampai sana. Danaunya cukup luas, berair payau, dan suasana di sekitarnya sangat rindang. Ubur-uburnya ada banyak dan terdiri dari 2 jenis yaitu yang berwarna bening-coklat dan seluruhnya bening. Teksturnya lembut dan kenyal seperti jelly. They’re so cute and adorable! Kalau berenang di sana, jangan memakai fin karena bisa melukai ubur-ubur. Jangan juga melompat ke dalam danau dan terlalu heboh supaya ubur-uburnya tidak terganggu.


  • ·         Gua Keramat dan Gua Tengkorak

Berbeda dengan bagian utara, mayoritas masyarakat di Raja Ampat bagian selatan beragama Islam. Di Gua Keramat, terdapat makam yang dipercaya sebagai makam dua tokoh yang menyebarkan agama Islam di sana. Selain itu, kalau dilihat dari jauh di dinding gua ada tulisan Allah. Sangat luar biasa! Disamping bernilai sejarah, gua ini juga  memiliki stalagtit dan stalagmit yang memberi kesan indah. Untuk menyusuri dalam gua yang besar ini, kita bisa menggunakan kano atau berenang. Lalu, di dekat Gua Keramat terdapat Gua Tengkorak dimana di sana terdapat tengkorak dan tulang belulang manusia zaman dulu. Ada yang bilang sekeluarga itu berdiam lama di dalam gua hingga meninggal, ada pula yang mengatakan setelah meninggal baru fosil mereka dibawa ke dalam gua. Belum ada kepastian mengenai kebenarannya. Tapi yang pasti, pemandangan di sekitar gua itu tidak boleh dilewatkan karena sangat spektakuler!



Lafal Allah di dinding gua
Selain keempat spot tersebut, masih banyak lagi tempat yang kami kunjungi seperti Pulau Putri Termenung, Pulau Banos, Gamfi, Yapap, Balbulol, Dafalen, dll. Semuanya menyajikan pemandangan yang luar biasa, baik di atas maupun bawah lautnya.







Bagi saya, Raja Ampat adalah salah satu tempat terindah di dunia. Well, maybe it’s actually a piece of heaven. Masyarakat lokalnya pun sangat ramah dan welcome dengan pengunjung. Kalau ada kesempatan dan rezeki, harus banget deh pokoknya ke Raja Ampat. Walaupun untuk menuju sana membutuhkan perjalanan yang agak panjang serta budget yang tidak sedikit, di sana sinyal masih susah, lalu terik mataharinya bisa membuat kulit kita gosong, dijamin gak ada yang menyesal sepulang dari Raja Ampat. Sebaliknya, justru merasa bahagia.

Little notes:

  • Untuk menuju Raja Ampat, bandara terdekat adalah Sorong, ibukota Papua Barat. Dari sana baru dilanjutkan dengan speedboat.
  • Karena harga sewa kapal di Raja Ampat mahal, lebih baik ikut trip yang ditawarkan oleh penyedia trip. Salah satunya adalah Kakaban Trip
  • Untuk akomodasi, di Misool yang sekelas resort hanya ada Misool Eco Resort, sedangkan yang lainnya sekelas homestay. Salah satunya adalah Harfat Jaya homestay. 
  • Persiapkan fisik yang baik karena aktivitas di sana membutuhkan tenaga yang cukup dan 100% outdoor.
  • Enjoy your visit!

Minggu, 11 Desember 2016

KENANGAN HOMESTAY SSEAYP DARI TAHUN KE TAHUN

(2004-2016)
Sejak tahun 2004, tiap tahun keluarga kami menjadi keluarga angkat untuk peserta program SSEAYP selama 3 hari 2 malam. Bagi yang belum tahu, SSEAYP adalah singkatan dari The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program. Peserta program ini adalah pemuda-pemudi usia 18-30 tahun dari 10 negara ASEAN dan Jepang. Jumlah total pesertanya sekitar 300an orang. SSEAYP mulai diadakan pada tahun 1974,sehingga tahun 2016 adalah ke-43 kalinya program ini berlangsung. 

Sesuai namanya, yang unik dari SSEAYP adalah program kepemudaan ini dilakukan di atas kapal. Yep! Selama 52 hari mereka melakukan berbagai aktivitas di kapal Nippon Maru seperti FGD (Focus Group Discussion), cultural performance, dll. Sementara itu, kapal berlayar dari Jepang  ke berbagai negara di Asia Tenggara. Biasanya program berlangsung pada akhir tahun (Oktober-Desember). Tidak semua negara peserta dikunjungi tiap tahunnya. Ketika tiba di suatu negara, mereka akan menjalani homestay atau tinggal di keluarga angkat. Tujuannya adalah untuk betul-betul merasakan kebudayaan negara lain.

Saya sendiri tahu program ini sejak kecil karena ibu sering bercerita. Dulu ibu mengikuti program SSEAYP pada tahun 1988 saat berusia 20 tahun. Pada saat itu, durasinya lebih lama yaitu 3 bulan. Kemudian, mulai tahun 2004 keluarga kami rutin menerima PYs (Participant Youth = sebutan untuk peserta). Tahun ini adalah ke delapan kalinya karena tidak setiap tahun kapal singgah di Jakarta. Kami selalu menerima empat peserta, kecuali tahun 2004 hanya 2, tahun 2010 hanya 3 (harusnya 4 tapi waktu itu yang satu sakit sehingga harus tinggal di kapal), dan pada tahun 2012 kami menerima 6. Tiap tahunnya, negara asal PYs yang tinggal di rumah kami selalu bervariatif sehingga kami sudah pernah menerima dari seluruh negara peserta (10 negara ASEAN+Jepang).

Karena namanya homestay, orang tua kami memperlakukan mereka sebagai anak, sedangkan saya, kakak, dan adik mengaggap mereka kakak. Tugas kami adalah mengajak mereka jalan-jalan ke berbagai tempat di Jakarta, mengenalkan aneka kebudayaan Indonesia, serta bercengkrama layaknya keluarga. Kedatangan para PYs juga menjadi keuntungan sendiri bagi kami untuk praktek bahasa Inggris dengan orang asing. Ibu selalu menyuruh kami untuk mengajak mereka mengobrol. Dulu sih tentu saja agak takut untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Tapi lama kelamaan menjadi terbiasa dan belakangan (terutama di tahun 2016) karena usia saya dan para kakak angkat tidak terpaut jauh lagi, mengobrol dengan mereka sudah seperti berbicara dengan teman dan terasa sangat menyenangkan.

Pada hari terakhir, kami akan membawa mereka kembali ke pelabuhan Tanjung Priok, tempat kapal Nippon Maru bersandar. Serunya, keluarga angkat mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam kapal untuk melihat-lihat. Jenis kapalnya adalah kapal pesiar dengan fasilitas yang lengkap dan sangat bagus seperti hotel bintang 5. Bagi yang baru pertama kali masuk ke dalam kapalnya, pasti akan merasa terkagum-kagum.

Lalu, tibalah saat untuk berpisah. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke negara selanjutnya. Perpisahan dengan para PYs selalu terasa menyedihkan walaupun mereka hanya tinggal di rumah kami selama 2 malam. Saat kapal akan mulai berjalan, para peserta akan berdiri di atas dek dan mencari-cari keluarga angkatnya di bawah untuk melemparkan pita berwarna-warni. Yap, ini dia salah satu momen unik khas SSEAYP dan juga favorit saya. Pita itu kemudian ditangkap oleh kami dan akan terus kami pegang sampai akhirnya jarak memutuskan pita kami. Momen ini selalu berlangsung dengan suasana haru. Biasanya kami akan menunggu sebentar sampai kapal sudah semakin jauh, mengecil, dan akhirnya pelan-pelan menghilang menuju lautan lepas.

Selepas program, hubungan kami tidak berakhir begitu saja. Kami masih saling berkomunikasi seperti saling kirim kartu pos ucapan selamat tahun baru atau hanya sekadar chatting. Beberapa kali pula saat kami mengunjungi negara mereka, kami akan mengontak sehingga bisa bertemu. Total sudah ada 31 kakak angkat yang tinggal di rumah kami. Setiap tahun selalu ada cerita tersendiri yang sulit untuk dilupakan. Meskipun semua tinggal berjauhan dengan kami, mereka tetaplah keluarga.

Dan, inilah foto-foto kenangan homestay SSEAYP dari tahun ke tahun!

2004:
2 PYs tahun 2004 berasal dari Vietnam dan Brunei Darussalam.


2006:
4 PYs tahun 2006 berasal dari Indonesia (Kalimantan Selatan), Jepang, Laos, Thailand).


2007:
4 PYs tahun 2007 berasal dari Jepang, Filipina, Kamboja, dan Myanmar.


2008:
4 PYs tahun 2008 berasal dari Indonesia (Jawa Barat), Thailand, Singapura, dan Jepang.


2010:
3 PYs tahun 2010 berasal dari Filipina, Laos, dan Singapura.


2011:
4 PYs tahun 2011 berasal dari Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Kamboja.


2012:
6 PYs tahun 2012 berasal dari Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Jepang.


2016:
4 PYs tahun 2016 berasal dari Jepang, Thailand, Myanmar, dan Laos.



Little notes:

Jumat, 25 November 2016

MEET & GREET BOMBYX MORI

Kain sutra identik dengan bahannya yang lembut, halus, serta berkualitas. Harganya memang cenderung lebih tinggi dibanding jenis kain lainnya.  Namun, hal ini bisa dimengerti karena beda dari kain lainnya, bahan baku kain sutra bukanlah dari kapas, melainkan dari ulat sutra dan membutuhkan proses yang cukup lama dan rumit. Sayangnya banyak yang belum mengetahui bagaimana proses pembuatannya. Apalagi di Indonesia budidaya ulat sutra jumlahnya tidak banyak.

Di Bandung, ada tempat budidaya ulat sutra bernama Padepokan Dayang Sumbi yang kini juga menyediakan paket wisata ilmu ulat sutra. Cocok banget buat yang mau tahu lebih lanjut tentang ulat sutra dan pembuatan kain sutra. Lokasinya yang berada di dataran tinggi membuat udaranya sejuk, terutama di pagi hari.


Kami sekeluarga tiba di sana pada pukul 8.30 padahal baru bukanya pukul 9 pagi. Jadilah nunggu dulu di dalam mobil. Sekitar pukul 8.45, ada petugas yang datang dan membawakan bubur sayuran. Seperti bubur ayam tapi ayamnya diganti dengan wortel, jagung, dan sayuran berwarna hijau yang awalnya kami kira bayam. Rasanya sangatlah enak!

Setelah makan,  tanpa menunggu lebih lama lagi kami langsung masuk ke dalam. Ternyata yang akan menjadi guide kami adalah pemiliknya langsung. Pertama, kami dibawa dulu ke ruang multimedia untuk mengenakan semacam apron dan menyaksikan film mengenai ulat sutra.  Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tambahan dari si pemiliknya.

Beginilah siklus ulat sutra yang  bernama latin bombyx mori:


Selanjutnya, tibalah saatnya untuk meilhat ulat-ulat sutra tersebut secara langsung. Mereka dibudidayakan di dalam suatu kotak yang berisi daun murbei untuk dimakan. Rupanya, sayuran hijau yang ada di bubur kami tadi adalah daun murbei! Satu kotak bisa berisi ratusan ulat sutra. Banyak orang yang merasa jijik dengan ulat, tapi percayalah, silkworms are okay and safe to touch! Yang dilakukan ulat sutra sepanjang hari adalah makan daun murbei dan tidur. Kayaknya enak banget ya, kerjaannya cuma makan dengan rakus dan tidur? Tapiii…hidup mereka juga cuma sebentar! 



Dari mulut mereka lalu akan keluar serat-serat yang membentuk kepompong yang keras. Serat kemudian diuraikan dan dipintal. Tapi sebelumnya, kepompong harus direbus terlebih dahulu. Satu kepompong bisa menghasilkan serat hingga ribuan meter, loh!



Di Padepokan Dayang Sumbi, terdapat pula mesin-mesin penenun kain. Selain memanfaatkan benangnya untuk jadi kain sutra, kepompong-kepompong yang masih keras juga masih bisa dikreasikan menjadi beraneka ragam bentuk, seperti bunga, boneka, dan sebagainya. Usai melihat proses pembuatannya, kami diajak untuk berkreasi membuat boneka dari kepompong. Setalah itu, kami bermain-main dengan beberapa ekor kelinci yang ada di sana.




Kunjungan kami memang singkat, tapi ada banyak informasi baru yang didapat. Seperti misalnya cara membedakan sutra yang asli dan palsu. Karena saat ini banyak kain sutra palsu, kita harus lebih hati-hati. Salah satu cara membuktikannya yang paling cepat adalah dengan membakarnya. Ambil saja beberapa helai benang dari bahan yang akan diuji lalu bakar. Sutra yang asli tidak akan terbakar dengan cepat dan akan meninggalkan bau seperti rambut yang terbakar. 

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa perawatan kain sutra enggak bisa sembarangan! Cucilah secara manual dan jangan gunakan deterjen karena bisa membuatnya cepat rusak. Salah satu yang paling aman adalah mencucinya dengan shampo.

Little notes:
  • Alamat Wisata Ulat Sutra Dayang Sumbi: Jl. Arcamanik Sindanglaya KM 4, Kp. Pamoyanan, Mekarmanik, Cimenyan, Jawa Barat 40196
  • Harga paket per orangnya adalah Rp. 85.000 dan untuk kunjungan harus melakukan reservasi terlebih dulu paling lambat H-2 ke 0813 2003 8686. Untuk grup di atas 10 orang ada paket khusus.
  • Waktu kunjungan Senin-Minggu: Sesi 1 : 09.00-11.00 dan Sesi II: 12.00-14.00. Hari Jumat sesi II akan dimulai pukul 12.30
  • Terdapat toko suvenir yang menjual aneka kain sutra dan handycraft, serta ada pilihan menu untuk makan.
  • Enjoy your visit!
 

A Piece Story Of Our Journey Template by Ipietoon Cute Blog Design