Senin, 22 Januari 2018

BERANI UNTUK BERBAGI

10 menit sebelum saya menulis ini, saya baru saja selesai menonton film pendek Kinetik karya Putri Tanjung. Film berdurasi 24 menit ini sebetulnya sudah tayang di Youtube channel Putri Tanjung sejak 24 September 2017, yang merupakan hari ulang tahun Kak Putri sendiri, tapi saya baru sempat menontonnya sekarang. Kinetik bercerita tentang 3 orang sahabat bernama Karim, seorang arsitek, Dhea, seorang penari dan pengajar tari, dan Kevin, seorang ahli matematika. Ketiganya telah mencapai mimpinya dan sukses di bidang masing-masing, tapi merasa bahwa ada yang kosong di hidup mereka. Mereka pun memutuskan untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan merenovasi sebuah sekolah di suatu desa di Karawang. Meski hanya 2 jam dari Jakarta, mereka menemukan perbedaan yang mencolok, terutama dari segi sarana dan prasarana pendidikan. Keadaan sekolah anak-anak itu tampak memprihatinkan.

Yang membuat film pendek ini berbeda adalah dalam proses pembuatannya, mereka betul-betul merenovasi sekolah tersebut dan berinteraksi secara nyata dengan anak-anak di sana. Setelah mencari tahu lebih lanjut, film Kinetik merupakan bagian dari kampanye yang diusung Putri Tanjung, yakni Muda Bergerak. Kampanye itu bertujuan mendukung komunitas sosial untuk bergerak dan berkarya lebih luas dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Menonton film Kinetik mengingatkan saya akan pengalaman yang saya lihat dan alami langsung saat berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Salah satu masalah yang sangat terlihat nyata adalah adanya ketimpangan dalam hal pendidikan. Di kota-kota besar, anak-anak bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak dengan segala fasilitas yang memadai. Namun, di daerah lainnya, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. 

Sudah bukan merupakan hal yang aneh bagi saya saat mendengar seorang anak bercerita bahwa ia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter naik turun bukit setiap harinya untuk pergi ke sekolahnya. Ada juga anak-anak lain yang harus mendayung perahu atau naik speedboat ke pulau sebelah. Semua itu mereka lakukan demi ke sekolah, karena di desa atau pulau mereka belum ada. Selama ini, kalau saya sedang malas belajar (yang sayangnya masih sering), entah kenapa tiba-tiba otak saya selalu memunculkan cerita anak-anak itu ke permukaan. Hal itu kemudian menjadi pengingat saya untuk jangan malas belajar.

Sewaktu saya ke Wakatobi pada tahun 2015, saya sempat singgah ke Desa Sama Bahari. Desa atau perkampungan tersebut dibangun di atas laut. Begitu tiba dan berjalan sebentar dari dermaga, ada suatu rumah dengan plang bertuliskan ‘Rumah Baca’. Akan tetapi, rumah tersebut terlihat tak terawat dan tidak ada buku lagi di dalamnya. Salah seorang bapak menjelaskan bahwa rumah itu memang awalnya difungsikan sebagai perpustakaan, tapi entah kenapa saat itu sudah tidak lagi. Sayang sekali, ya.

Di desa tersebut, ada sekolah dari SD hingga SMA, meskipun bangunannya sangat sederhana dan ada beberapa bagian yang rusak. Saya ke sana pada hari Jumat sekitar pukul 8 pagi dan tidak terlihat proses belajar. Entah keluarga saya terlihat mencolok atau bagaimana, tiba-tiba banyak anak yang mengikuti dan mengerubungi kami. Mereka ada yang mengenakan baju seragam dan ada juga yang tidak. Dari mereka saya jadi mengetahui beberapa informasi. Mereka belajar setiap harinya di sekolah hanya sekitar 2 jam, dari SD hingga SMA. Karena SMA hanya memiliki 1 ruangan kelas, maka kelas 10 hingga 12 pun belajarnya bergantian 2 jam per hari. Misalnya kelas 10 dari pukul 9 hingga 11, lalu kelas 11 dari pukul 11 hingga 1 siang, dan kelas 12 dari pukul 1 siang hingga 3 sore. Mereka juga tetap menjalani Ujian Nasional. Kebetulan anak-anak kelas 12 di sana pada tahun 2014 yang lalu adalah yang pertama ikut UN.  Sewaktu kami ke sana pada bulan Mei, mereka sedang menunggu hasilnya. Ketika ditanya apakah mereka siap dengan UN dan yakin dengan hasilnya, mereka menjawab dengan mantap bahwa mereka yakin lulus. Tidak adil sebetulnya kalau mau disamakan dengan sekolah di kota yang sudah maju yang belajar dari pagi hingga sore lalu sebagian ditambah dengan bimbingan belajar.

Di satu-satunya ruangan kelas untuk semua tingkatan kelas di SMA di Desa Sama Bahari
Sewaktu saya ke sana, sedang ada juga guru-guru volunteer dari suatu NGO. Mereka menjelaskan bahwa guru asli di sana jumlahnya memang belum memadai. Saat akan pulang, ada beberapa anak yang memegangi tangan saya dan bertanya ‘Kakak tidak mengajar kak di sekolah kami?’ Dengan merasa tidak enak, saya menjawab tidak karena memang hanya sebentar di sana. Rupanya mereka senang kalau ada tenaga pengajar dari luar mengajar di sekolah mereka.


Masalah kekurangan guru juga sering saya dengar. Seperti saat ke Pulau Arborek, Raja Ampat, saat itu terlihat sejumlah anak sedang bermain di pantai. Karena kami datangnya pada hari biasa (iya saya yang izin gak masuk sekolah hehe), kami pun bertanya kenapa tidak pergi ke sekolah. Anak-anak itu menjawab bahwa guru-guru mereka sedang pergi dan tidak ada di pulau. Kemudian ada seorang ibu yang menjelaskan bahwa para guru sedang ada rapat di ibu kota sehingga sekolah diliburkan selama seminggu atau dua minggu, tergantung kapan mereka kembali. Katanya, hal tersebut sering terjadi yang menyebabkan anak-anak banyak tidak masuk sekolahnya. Ya saya di sekolah dulu juga selalu senang sih kalau ada guru yang tidak masuk kelas dan semangat kalau liburan tiba :) Tapi saya beruntung karena ada bapak ibu guru yang mengajar di sekolah, bahkan setiap pelajaran ada satu guru. Sedangkan mereka, untuk mendapatkan ilmu dari satu orang guru pun jarang. Padahal saya dan mereka sama-sama anak Indonesia yang berhak atas pendidikan.

Saya percaya bahwa pemerintah telah mengupayakan yang terbaik dalam hal pemerataan pendidikan ini. Saat ini pun sudah semakin banyak orang yang menjadi relawan untuk mengajar di daerah-daerah. Ada pula yang membangun perpustakaan-perpustakaan. Saya sangaaaat salut dengan mereka! Ini juga jadi refleksi untuk diri saya sendiri. Mungkin belum banyak yang dapat saya lakukan saat ini. Saat datang ke suatu daerah, beberapa tahun ini saya sekeluarga biasa membawa sejumlah buku untuk diberikan ke anak-anak setempat. Melihat orang lain bahagia karena tindakan kecil kita ternyata sangat luar biasa rasanya. Hal itu pula yang Karim, Dhea, dan Kevin di film Kinetik rasakan. Mereka awalnya merasa jenuh dan kosong, padahal telah sukses. Namun, setelah bertemu anak-anak dan merenovasi sekolah, mereka seperti merasa ‘hidup’ kembali.

Salah satu kutipan di film Kinetik yang paling saya ingat adalah: “Menghitung apa saja yang sudah kita dapat di dunia ini rasanya 10 jari tangan kita tak cukup menghitungnya, tapi menghitung apa yang sudah kita berikan untuk dunia ini rasanya 1 hitungan jari pun belum ada.” 

Selagi masih ada rezeki dan kesempatan, yuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain!

Little notes:
  • Ada sebuah komunitas bernama 1000 Guru yang memiliki konsep Traveling & Teaching. Mereka rutin mengadakan trip ke suatu tempat dan para pesertanya pun berkesempatan mengajar anak-anak di daerah setempat. Informasi lengkapnya bisa dilihat di https://seribuguru.org/

0 komentar:

Posting Komentar

 

A Piece Story Of Our Journey Template by Ipietoon Cute Blog Design